MODUL SEJARAH   Leave a comment

MODUL SEJARAH
Pendidikan Kewirausahaan2

Standar Kompetensi
Memahami sejarah perkembangan Malang sejak zaman praaksara sampai zaman sekarang
Kompetensi Dasar:
Menganalis asal-usul dan sejarah perkembangan Malang sejak zaman praaksara sampai zaman sekarang
Indikator pembelajaran
1. Mengidentifikasi pendapat tentang asal-usul nama daerah Malang
2. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa pra-aksara
3. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Hindu-Budha
4. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Islam
5. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kolonial
6. Mendeskripsikan peninggalan sejarah di Malang Raya pasca Indonesia merdeka
Tujuan pembelajaran
1. Menjelaskan asal usul nama daerah Malang
2. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa pra-aksara
3. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Hindu-Budha
4. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Islam
5. Mendeskripsikan bentuk-bentuk peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kolonial
6. Mendeskripsikan peninggalan sejarah di Malang Raya pasca Indonesia merdeka

MATERI AJAR

A. Asal-usul nama daerah Malang
Nama “Malang” sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama “Malang”. Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang.

Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang. Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari. Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi. Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang. Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.

Sejarah terbentuknya kota Malang
Gemeente (Pemkot) Malang telah dibentuk sejak tanggal 1 April 1914. Karena belum ada Burge Meester (wali kota)-nya maka pemerintahan diurus oleh Gemeenteraad (dewan kota) yang dipimpin oleh asisten residen F.L.Broekveldt.

B. Bentuk- bentuk peninggalan sejarah Kota Malang pada masa pra-aksara
Pada masa pra aksara, masyarakat pra aksara (tidak terkecuali masyarakat Malang) juga berburu dan meramu untuk mendapatkan makanan. Inilah yang menjadikan mereka bertempat tinggal nomaden. Perkembangan kehidupan hingga mulai mengenal bercocok tanam (dari food gathering menjadi food producing) mengakibatkan mereka mulai tinggal menetap. Menjadi masyarakat kecil hingga terbentuk desa-desa.
Bukti yang memperkuat adanya jaman Neolitikum yaitu ditemukannya alat-alat pertanian di daerah Malang selatan. Alat itu adalah kapak persegi empat dan kapak runcing yang sudah dihaluskan. Alat-alat itu diperkirakan berasal dari abad VI SM. Di sana juga ditemukan tiga buah alat pertanian dari batu kali pada zaman Epipaleolitik atau jaman yang mendekati jaman Paleolitikum. Adapun di kota Malang pada tahun 1936 juga ditemukan perhiasan berupa kalung perunggu dan cincin.

Peninggalan zaman pra-aksara di Kelurahan Bakalankrajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang tahun 2013

BATU GORES PRASEJARAH.
Seorang petugas melakukan eskavasi (perawatan) pada batu lumpang usai di evakuasi dari bibir sungai di Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwo, Malang, Jawa Timur, Kamis (7/1). Batu lumpang tersebut diduga berasal dari zaman prasejarah yang digunakan untuk upacara ritual pada abad 6 hingga 7 Masehi.
Kota Malang tidak tumbuh begitu saja. Walaupun ada ahli tata kota seperti Ir. Karsten. Tapi sebenarnya pada zaman dahulu sudah ada tata desa yang membabat alas dan menjadikan pedesaan. Lama-lama desa itu berubah menjadi kampong bahkan menjadi bagian dari kota Malang.
Para ahli yang menjadikan tempat pemukiman tak lain adalah para sesepuh yang jumlahnya cukup banyak, dan makam atau tetenger mereka tersebar di seluruh penjuru kota Malang.
Makam atau tetenger itulah yang disebut dengan punden. Punden tersebut antara lain, Punden Mbah Tugu (Jln Agung Suprapto), Punden Karang Besuki (Dukuh Gasek), Punden Karuman (Tlogo Mas gang VIII).

Tugas Individual:
1. Bagaimana hipotesis sejarah nama “Malang”?
2. Apa bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan nama “Malang”?
3. Jelaskan hubungan keberadaan kota Malang dengan kerajaan Majapahit dan kerajaan Singasari!
4. Bagaimana hubungan kerajaan Kanjuruhan dengan kota Malang? Jelaskan singkat!
5. Bagaimana sejarah terbentuknya kota Malang?
6. Apa simbol/lambang kota Malang? Apa artinya?
7. Bagaimana kehidupan masyarakat Malang pda masa pra-aksara?
8. Apa bukti yang menunjukkan peradaban masyarakat kota Malang yang hidup pada jaman pra-aksara? Jelaskan singkat!
9. Bagaimana tata desa masyarakat Malang pada jaman pra-aksara? Jelaskan singkat!
10. Apa argumentasi Anda terhadap sejarah “Malang” yang hingga saat ini masih berupa hipotesa semata ?

C. Bentuk-bentuk peninggalan sejarah Kota Malang pada masa kerajaan Hindu-Budha

1. Candi Badut

Lokasinya berada di tengah-tengah perumahan penduduk, masuk ke gang kecil, orang pasti tidak mengira kalo di gang tersebut terdapat peninggalan sejarah yang sangat berharga.Secara administratif candi badut terletak di desa Karang Besuki, kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini berdiri diatas tanah seluas 2808 m2. Dikelilingi oleh gunung Kawi (Selatan), gunung Arjuna (barat), Gunung Tengger (utara) dan Gunung Semeru (Timur). Menurut keterangan yang tertulis di situ dulu candi ini dikelilingi oleh pagar temboki yang sekarang hanya tinggal sisa-sisa pondasinya. Terbuat dari batu andhesit, berdenah empat persegi yang berukuran 17,27 m x 14,04 m dengan tinggi 8 m, menghadap ke Barat.Candi tersebut merupakan candi tertua di Jawa Timur, didirikan pada tahun 760 M. Awalnya candi tersebut tertimbun tanah dan ditumbuhi oleh pohon besar di tengah-tengah sawah. Ditemukan oleh EW Mauren Brechter pada tahun 1991. Melihat dari foto pada saat pertama kali ditemukan, sungguh mengenaskan sekali. kemudian candi tersebut mengalami pemugaran 2 kali, yaitu pada tahun 1925-1926 dan tahun 1990-1991.Melihat dari arca yang ada, yaitu durga, agastya dan lingga yoni candi tersebut merupakan candi yang bersifat Hindu. Arsitektur candi terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Bagian depan terdapat undakan menuju bilik candi. Sebelum masuk ke bilik terdapat Selasa Pradaksi napatha (tempat mengelilingi candi muda) dari arah kiri ke kanan. Bagian tubuh tampak tambun, pintu masuk berhias kalamakara, yang merupakan gaya seni Jawa Tengah. Di dalam bilik terdapat lingga dan yoni.
Ayo kita lestarikan peninggalan-peninggalan berharga nenek moyang kita.

2. Candi Singosari

Jejak-jejak Kerajaan Singosari dimasa lampau ternyata masih bisa kita lihat keberadaannya hingga saat ini. Candi Singosari yang terletak di Malang Jawa Timur ini berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan yang didirikan Ken Arok tersebut. Candi ini dibangun sebagai simbol untuk menghormati kebesaran raja Kertanegara yang gugur karena pemberontakan yang dilakukan Jayakatwang.
Perpaduan unsur agama Budha dan Hindu menjadi tonggak pembangunan candi yang telah menjadi cagar budaya ini. Dua agama inilah yang tumbuh luas pada saat jaman kerajaan Singosari berkuasa. Candi Singosari dibangun dengan bentuk menyerupai limas, batu disusun dari bawah hingga ke atas lalu dipahat dengan bagian atas lebih kecil dari bagian bawah candi. Bagian-bagian candi memiliki fungsi yang memiliki arti tersendiri. Batur (pondasi), kaki candi, tubuh candi dan atap memiliki fungsi yang berbeda-beda kegunaannya.
Pada bagian Batur berfungsi sebagai pondasi yang menjadi tonggak berdirinya Candi Singosari. Kaki Candi Singosari menjadi ruangan relung-relung yang ada disini. Selain itu, terdapat arca Resi Agastya yang dipercaya sebagai penyebar agama hindu dari India ke tanah Jawa.Tubuh Candi Singosari sengaja dikosongkan, ini untuk menghormati roh-roh suci di Candi Singosari. Sedangkan pada bagian puncak candi ini disediakan persemayaman para dewa dewi yang dianut oleh agama Hindu-Budha.

Foto: Candi Singasari

Relief yang terukir pada Candi Singosari sebagian besar berbentuk bunga-bunga dan binatang. Salah satu relief binatang berbentuk singa dengan pahatan saling bertolak pandang. Ada juga burung jaringan, yaitu burung yang dipercaya hidup pada saat candi ini dibangun. Pahatan wajah-wajah seram yang disebut Muka Kala atau Kirti Murka juga menghiasi Candi Singosari. Pahatan ini berfungsi sebagai pengusir roh-roh jahat yang akan datang membawa bencana terhadap Candi Singosari.

3. Candi Jago

Masih di sekitar Kabupaten Malang di mana pusat Kerajaan Singosari pernah berada, kami melanjutkan perjalanan dari Candi Kidal menuju Dusun Jago di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang. Di sinilah bisa kami temukan candi lain yang memiliki keterkaitan penting pada masa Singosari, yaitu pendarmaan lain dari raja selanjutnya Nama lokal lain dari Candi Jago adalah Candi Tumpang atau Cungkup. Kata “Jago” berasal dari “Jajaghu” yang artinya “Keagungan” (divine). Sebagai sebuah tempat suci bersemayamnya seorang raja, Candi Jago tidak hanya menjadi sakral dan dianggap suci, tetapi juga menyimpan daya magis yang bercampur dengan manifestasi estetis sebagai simbol guna menghormati dan mengenang raja.

Foto: Candi Jago

4. Candi Songgoriti

Lokasi Candi Songgoriti ini sebenarnya terletak disebuah lembah yang memisahkan antara lereng Gunung Arjuna dengan lereng Gungung Kawi. Candi ini dibangun diatas mata air panas yang pada masa lalu diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bangunan candi terbuat dari batu andesit, sedangkan pondasinya dari batu bata. Secara arsitektural bangunannya terdiri atas kaki, tubuh dan atap candi, sedangkan yang sampai sekarang bisa dilihat hanyalah kaki candi dan sebagian tubuh candi sisi Timur, Utara dan Barat. Masa pembangunan Candi Songgoriti belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi diduga candi ini berasal dari masa pemerintahan Pu Sindok, yakni masa perpindahan kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad IX – X masehi.

Dilihat dari arsitekturnya yang sangat sederhana, Candi Songgoriti digolongkan sebagai candi tertua di Jawa Timur dan mempunyai hiasan berlanggam Jawa Tengah. Bangunan sisi candi yang tersisa (Timur, Utara, Barat) memiliki relung-relung sebagai tempat arca. Relung sebelah Timur merupakan tempat arca Ganesha, yang arcanya tinggal sebagian, yaitu bagian perut dan kaki. Relung sebelah Utara arcanya sudah hilang, sedangkan relung sebelah Barat, arcanya sudah tidak menempel lagi di relung, tetapi masih berada dilingkungan candi. Arca ini merupakan arca Agastya, yang dalam agama Hindu merupakan salah satu dari tujuh pendeta yang menyebarkan agama Hindu di Asia Tenggara dan Jawa.

Foto: Candi Songgoriti

5. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan Singosari Malang terletak di daerah Singosari, tepatnya di Desa Sumberawan, daerah Toyomorto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Candi Sumberawan ini hanya berjarak kurang lebih 6 km saja dari Candi Singosari. Candi ini berbeda dengan candi-candi lainnya, yang membedakan adalah candi ini tidak berupa bangunan seperti candi-candi lainnya, namun candi ini hanya berupa bentuk stupa dan merupakan satu-satunya candi yang berbentuk stupa yang berada di Jawa Timur. Candi ini termasuk candi bercorak Budha dan merupakan peninggalan kerajaan Singhasari. Candi sumberawan Singosari Malang ini ditemukan pertama kali pada tahun 1904 dan sudah mengalami renovasi pada bagian kaki candi pada tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda. Dahulunya Candi Sumberawan ini digunakan untuk melakukan persembahyangan umat Budha pada saat itu. Selain itu juga banyak yang memperkirakan kalau dahulunya candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan

Seperti candi lainnya, Candi Sumberawan Singosari Malang ini juga terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25m, lebar 6,25m, tinggi 5,23m. Dibangun dengan ketinggian 650 mdpl di bawah kaki Gunung Arjuno. Namun sebelum anda memasuki kawasan candi sumberawan ini, anda harus berjalan melewati sawah dan sungai melalui 500 meter dari Jalan Raya Dusun Sumberawan Desa Toyomarto. Untuk Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah dan bagus sekali. Dikelilingi dengan hamparan permadani sawah yang bagus, udara yang sejuk dan juga terdapat sumber mata air yang sangat besar membentuk telaga dengan kondisi air yang jernih dan bersih. Banyak orang sekitar yang bilang dan percaya jika air kolam sumberawan memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh, Jadi anda mungkin sangat betah sekali jika berkunjung dan berwisata ke Candi Sumberawan Singosari Malang ini.
Batur candi ini berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Pada kaki candi memiliki empat penampil pada keempat sisinya. sedangkan di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri dari lapik bujur sangkar dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma. Namun sangat disayangkan sekali pada bagian teratas dari tubuh candi atau bisa dimaksud dengan puncaknya sudah ada yang hilang , jadi sudah tidak mungkin untuk melakukan pemugaran lagi karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan pemasangannya kembali. Dari bentuk candi stupa ini sendiri menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhinisme dengan suasana alam yang damai dan indah
Tugas Individual:
Menurut kalian masih adakah peninggalan-peninggalan zaman kerajaan Hindu-Budha di daerah Malang Raya? Carilah dan kumpulkanlah sebagai tugas kepada guru pendamping kalian.

D. Bentuk-bentuk peninggalan sejarah Malang di Malang Raya pada masa kerajaan Islam

1. Makam Ki Ageng Gribig

Bagi masyarakat Keca¬matan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, makam Ki Ageng Gribig bukan hal yang asing bagi mereka. Makam ini tepat¬nya beradaa di sebuah kampung yang namanya juga mengambil nama tokoh tersebut; Jalan Ki Ageng Gribig Gang II. Makam yang diyakini sebagai perisitirahatan terakhirnya, berada dalam satu komplek dengan makam beberapa bupati Malang tempo dulu.
Ma¬kam Ki Ageng Gribig di Kedung Kan¬dang ini sangat dikeramatkan. Pada malam-malam tertentu, terutama malam Jum’at Legi, selalu saja ada peziarah yang meramaikan makamnya. Berbagai macam berkah tentu mereka harapkan, mulai keselamatan, penglarisari, gampang rejeki, hingga kebahagiaan lahir batin.
Beberapa waktu lalu, banyak pula orang yang datang ke makam ini untuk berburu pusaka. Berbagai pusaka memang diyakini banyak tersimpan di makam yang lokasinya tidak jauh dari Perumnas Sawojajar, Kota Malang ini. “Pernah ada yang berhasil mengambil keris di sini, Mas,” ungkap Thoyibi (84), juru kunci makam.

Makam Ki Ageng Gribig juga di¬lindungi bangunan cungkup meski ukurannya tak sebesar 3 makam bupati. Di dalamnya pun hanya terda¬pat 2 makam, dirinya dan istri. Berbeda dengan makam para bupati dan makam-makam lainnya, makam suami istri ini tidak bernisan. Hanya berupa dua gundukan tanah, dengan timbunan bunga-bunga di atasnya dalam naungan kelambu warna putih.
Keturunan Brawijaya
Lalu siapa sebenarnya Ki Ageng Gribig yang dikuburkan di tempat ini? Menurut beberapa sumber, dia adalah cicit Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto. Konon Ki Ageng Gribig adalah sa¬lah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.
Sebagai ulama, Ki Ageng Gribig sangat terkenal dan dihormati di wilayah Malang sekitar 1650an. Ketika sudah meninggal dunia pun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh penguasa waktu itu. Bupati Malang pertama bahkan merasa pemerintahannya yang berjalan bagus karena berkah Ki Ageng Gribig. “Karenanya dia berpesan, bila meninggal dunia dikuburkan dekat makam Ki Ageng Gribig,” jelas Thoyibi.

2. Makam Mbah Wastu

Makam Mbah Batu terletak di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Makam itu berada dalam satu kompleks dengan kondisi sangat terawat. Lantainya keramik putih bersih di area makam, dilengkapi pula dengan tempat shalat dan mengaji bagi para peziarah. Makam Mbah Batu pun telah dipagari dan dilengkapi kelambu transparan warna putih. Para peziarah yang datang tidak hanya dari Kota Batu saja, banyak juga yang berasal dari luar kota, antara lain Bojonegoro, Malang Selatan, Jakarta, dan Surabaya. Bahkan dari Malaysia pun ada yang datang ke sini. Kebanyakan datang untuk mengaji dan berdoa.
Di komplek makam Mbah Batu ini dimakamkan empat tokoh penyebar agama Islam di daerah Batu. Mereka adalah Syekh Abul Ghonaim atau Pangeran Rojoyo, Dewi Mutmainah, Dewi Condroasmoro (Mbah Tu), dan Kyai Naim. Syekh Abul Ghonaim merupakan putra Sunan Kadilangu, cucu Sunan Mulyo, dan cicit Sunan Kalijogo. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan berkumpul bersama warga dan membicarakan tentang Islam. Beliau termasuk penyebar agama Islam yang mumpuni, sehingga mendapat julukan Syekh Abul Ghonaim. Syekh Abul Ghonaim alias Mbah Wastu alias Kiai Gubuk Angin wafat pada 1830 dan Raden Ayu Dewi Muthmainnah wafat pada 1847.
Konon Syekh Abul Ghonaim itu jugalah yang dikenal mampu membuat Dewi Condro Asmoro, salah seorang keturunan Kerajaan Majapahit untuk memeluk Islam. Dewi Condro Asmoro merupakan putri Prabu Suito Kerto dan Dewi Anjasmoro. Dikisahkan, bahwa Dewi Condroasmoro atau biasa dikenal dengan Nini Kuning masuk Islam setelah ditolong Syekh Abul Ghonaim. Apalagi tutur bahasanya santun dan perangainya mulia, Dewi Condroasmoro pun langsung memeluk Islam, kemudian meninggal saat melantunkan lafadz pujian miftakhul jannah. Menurut kisahnya Dewi Condro Asmoro inilah yang dikenal sebagai Mbah Mbatu. Awalnya Pangeran Rojoyo memanggil beliau dengan sebutan Mbok Tuwo sehingga para santri menyebut beliau dengan sebutan Mbah Tuo. Karena kebiasaan masyarakat memperpendek nama, sehingga nama tersebut menjadi Mbah Tu. Mbah Tu mensyiarkan agama Islam di Batu bahkan sampai ke Lumajang, Pasuruan, dan Jember. Mbah Tuwo adalah orang yang dituakan dan pertama kali menempati hutan Wonoaji di Kecamatan Bumiaji. Dewi Condro Asmoro akhirnya wafat pada tahun 1781.
Abul Ghonaim alias Kiai Gubuk Angin adalah salah seorang ulama murid dari Pangeran Diponegoro. Abu Ghona’im mempunyai nama kondang lain, yaitu Mbah Wastu, untuk menghindari dari pengejaran pasukan Belanda. Konon dalam versi yang lain, karena nama Mbah Wastu dianggap cukup panjang, masyarakat setempat menyingkat namanya dengan panggilan Mbah Tu atau Mbatu. Dalam pelarian tersebut, Mbah Wastu mendirikan sebuah padepokan di kaki Gunung Panderman. Mbah Wastu mengajarkan berbagai ilmu, termasuk menyebarkan Islam, kepada masyarakat. Lambat laun, makin banyak pendatang dari berbagai penjuru untuk belajar ilmu dan menetap di Batu.
Selain itu, di pemakaman ini terdapat makam Dewi Mutmainah, yang merupakan istri dari Syech Abul Ghonaim. Dewi Mutmainah merupakan putri Syekh Maulana Muhammad, putra Sunan Gunung Jati. Istrinya yang selalu mendampingi dan mendukung perjuangan syiar Islam suaminya. Ada pula makam Kyai Naim yang berasal dari Mataram. Ia datang ke tempat Pangeran Rojoyo untuk memberitahu mengenai perang di Mataram. Kemudian ia diminta Pangeran Rojoyo untuk tinggal di sana untuk membantu mengajar ngaji di pondoknya. Beliau meninggal saat akan meninggalkan Syekh Abul Ghonaim, yang rencananya akan kembali ke Mataram. Namun keburu meninggal saat jatuh dari kuda.
3. Makam Karaeng Galesong

Karaeng Galesong merupakan pejuang masa kerajaan Makassar, pelariannya ke tanah Jawa dikarenakan kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda pada tahun 1669. Ia tidak ingin berada di bawah jajahan Belanda, karenanya memilih untuk meninggalkan tanah Gowa bersama beberapa kerabat kerajaan. Mereka antara lain Karaeng Tallo Sultan Harunnarrasyid Tumenanga ri Lampana dan Daeng Mangappa, saudara kandung Karaeng Tallo. Dua lainnya paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana, dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa. Sebelum perkawinan Karaeng Galesong, Trunojoyo meminta Karaeng Galesong dengan pasukannya membantu menyerang Gresik dan Surabaya yang berada dalam kekuasaan Adipati Anom, Pasukan Karaeng Galesong seperti ditulis ahli sejarah Belanda, Degraff, Karaeng Galesong berhasil mengobrak-abrik pasukan Adipatai Anom yang kemudian lari ke Jawa Tengah Menurut catatan sejarah, pada 21 November 1679 sang panglima wafat di daerah Ngantang Kabupaten Malang. Kisah kematiannya diperoleh sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief, yang catatannya sekarang masih tersimpan rapi di Denhaag.

Adalah Ngantang, sebuah daerah di kabupaten Malang, tidak jauh dari kota Batu yang menjadi peristirahatan terakhir sang karaeng. Daerah ini sejuk dan asri, dan di sinilah terdapat sebuah pemakaman yang luasnya sekitar seratus meter persegi, dengan beberapa pohon kamboja tua. Suasana pemakaman nampak bersih, hanya terdapat beberapa batu nisan dengan tatanan batu bata tua yang sudah berlumut dan sebuah gundukan agak memojok dengan nisan yang telah berlumut pula. Diyakini makam ini adalah kerabat Karaeng Galesong. Tidak jauh dari gundukan tersebut, terdapat batu nisan dari marmer yang tampaknya belum begitu lama dipasang. Di sinilah makam Karaeng Galesong berada. Kuburan yang ditata dengan tumpukan batu bata dipenuhi lumut. Di antara nisan dan kuburan, berdiri tiang sekitar satu meter dengan bendera merah putih. Di bawah kibaran bendera terdapat tulisan kata “pejuang”. Pada prasasti marmer di kuburan itu, terukir tulisan berwarna emas menggunakan bahasa Arab, yang terjemahan bebasnya berarti, “di sinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang dijalan Allah.” Di bawah prasasti ini terdapat tulisan nama sebuah kelompok pengajian, yang menyebut diri warga Malang keturunan Galesong. Bugis Makassar di Malang Masyarakat Bugis Makassar memang banyak bermukim di Malang dan sekitarnya. Karaeng Galesong pun menjadi kebanggaan. Ziarah ke makam sang karaeng merupakan rutinitas. Dua tahun lalu, misalnya, masayarakat Sulawesi-Selatan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS Malang Raya) dan Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Sulawesi-Selatan (IKAMI Sul-Sel Cab. Malang) mengadakan acara memperingati hari korban 40.000 Jiwa, yang salah satu kegiatannya adalah berziarah ke makam Karaeng Galesong.

Salah satu artikel di buletin Anging Mamiri yang diterbitkan oleh KKSS Malang raya, Salahauddin Basir menuliskan bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo, motor pergerakan Budi Utomo masih merupakan keturunan Galesong. Pada tahun 60-an, seorang guru besar di Universitas Gajah Mada bernama Prof. Mr.Djojodiguno, pakar hukum yang terkenal, sering bertutur kepada mahasiswanya bahwa ia berdarah Makassar, merupakan keturunan Karaeng Galesong. Tentu kita juga masih ingat, Setiawan Djodi, seniman dan budayawan yang dinobatkan sebagai keturunan Karaeng Galesong beberapa tahun lalu. Tepatnya di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang,Jawa Timur (kira-kira 50km arah barat laut kota Malang), Dan menurut catatan di koran tersebut (lupa bawa karena ketinggalan di kampung), Karaeng Galesong adalah putra dari Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur yang melarikan diri ketika kerajaan Gowa/Bone dikalahkan Belanda dan melarikan diri ke tanah Jawa. Keberadaannya baru diketahui ketika ada upaya menjadikan Karaeng Galesong ini sebagai pahlawan nasional. Sampai-sampai data tentang desa tempat dia mengasingkan diri dicari sampai di buku-buku peninggalan Belanda di Musium Leiden. Disebut Karaeng Galesong menetap dan dimakamkan di desa Hantang (sekarang Ngantang), beliau oleh warga setempat dipanggil Mbah Raja/Rojo. Dan benar tidaknya dia ini berasal dari Sulawesi Selatan telah dibenarkan oleh cicit Raja Bone terakhir yang akhirnya makam itu direnovasi oleh Pemerintah Daerah Bone dan kepala desa Kaumrejopun mendapat berkah dari situ karena diundang terbang ke Bone, Sulawesi Selatan sebagai wujud penghormatan atas terpeliharanya makam Mbah Raja alias Karaeng Galesong ini.

E. PENINGGALAN SEJARAH ZAMAN KOLONIAL

a. Zaman Belanda
Pada zaman penjajahan kolonial Belanda, Kota Malang di sulap menjadi sebuah daerah favorit keluarga Belanda untuk berlibur dan tinggal. Sampai saat ini masih tampak kokoh bangunan-bangunan yang merupakan peninggalan jaman penjajahan dahulu seperti Ijen Boulevard yang merupakan bekas daerah tempat tinggal para kompeni (sebutan untuk orang Belanda jaman dahulu). Ketika perjuangan kemerdekaan Indonesia, Malang salah satu daerah yang sangat dipertahankan oleh berbagai pihak seperti Belanda,Jepang dan Indonesia sendiri. Jalan-jalan di Kota Malang belum lengkap rasanya jika tidak mengenal beberapa ikon sejarah kota Malang, karena memang Malang merupakan sebuah kota yang terkenal akan sejarahnya. Ada beberapa ikon kota Malang yang memang wajib untuk dikunjungi oleh para wisatawan yang berkunjung ke kota Malang.
1. Toko Oen

Toko Oen merupakan salah satu kunjungan favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Ketika kita masuk kedalamnya, kita akan langsung disuguhi oleh atmosfer zaman kolonial Belanda. Hal itu dikarenakan tidak banyak perubahan yang terjadi dengan toko tersebut, sengaja untuk dibiarkan menjadi sebuah saksi sejarah yang tak akan terlupakan.
Toko Oen berdiri semenjak tahun 1930, saat itu Toko Oen merupakan tempat favorit bagi kaum-kaum Belanda. Toko Oen seringkali dijadikan pusat bersantai dan pertemuan bagi para kolonial Belanda.
Ornamen-ornamen kuno yang ada di Toko Oen masih dijamin keasliannya dari dulu hingga sekarang. Di sana juga terdapat mini galeri di mana ada beberapa potret-potret Kota Malang tempo dulu yang masih terlihat sangat asri dan rapi. Di depan Toko Oen dahulu terdapat sebuah gedung pertokoan megah pertama di Malang yaitu Concordia sebuah bangunan bergaya Yunani kuno yang sangat terkenal di Jawa Timur. Namun sayang ketika masa perjuangan gedung tersebut dibumi hanguskan dan saat ini diganti menjadi pertokoan modern yang dinamakan Sarinah.
Toko Oen sampai saat ini masih menyimpan menu andalannya yang terkenal sejak dulu seperti es krim yang terbuat dari bahan alami yang dapat memanjakan lidah para wisatawan yang berkunjung kesana. Bistik lidah dan lumpia merupakan menu andalan Toko Oen sejak dulu. Toko Oen merupakan sebuah saksi bisu sejarah yang akan selalu ada di hati para wisatawan yang datang mengunjunginya.

2. Tiga Gereja Tua ( Kayutangan, GPIB Imannuel, Ijen)

Tiga gereja tua di Malang merupakan destinasi wisata selanjutnya dimana ketiga gereja tersebut mempunyai cerita tersendiri dan keunikan tersendiri. Gereja Kayutangan merupakan gereja yang bergaya Neo-Gothic dan merupakan saksi peperangan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah. Dahulunya gereja ini merupakan gereja awal masa kolonial Belanda dan saat terjadinya peperangan gereja ini sempat menjadi basis pertahanan tentara Belanda saat itu.
GPIB Imannuel merupakan gereja tua kedua yang saat ini berdiri kokoh tepat di depan alun-alun kota Malang. Gereja ini merupakan gereja bergaya gothic kuno. Keunikan dari gereja ini adalah gereja ini berada tepat disamping Masjid Agung Jami’ yang merupakan mesjid tertua di kota Malang. Hal ini membuat daya tarik tersendiri bagi wisatawan, di mana kedua gedung pusat peribadatan umat Muslim dan Kristiani tersebut hidup berdampingan dan tampak tentram semenjak dahulu kala hingga kini dan masih kokoh berdampingan.
Gereja Ijen Boulevard merupakan gereja yang berada di kawasan elit perumahan bekas Belanda yang disebut sebagai Ijen Boulevard. Gereja ini merupakan saksi bisu perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) mempertahankan Kota Malang dalam agresi militer I pada tahun 1947. Saat malam hari gereja ini memiliki keindahan tersendiri dan menjadi salah satu kawasan wisata kota Malang yang sering dikunjungi. Untuk mengenang jasa para pahlawan TRIP di depan gereja ini dibangun monumen pahlawan TRIP yang menghadap ke gereja tersebut. Ini menggambarkan kejadian nyatanya dimana para pasukan TRIP yang terakhir berusaha berlindung ke arah gereja tersebut.

b. Zaman Jepang

1. Goa Jepang

Goa Jepang di Desa Tlekung

Goa Tlekung Batu, adalah Goa peninggalan bangsa Jepang yang terletak di daerah Dusun Gangsiran Desa Tlekung Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Goa peninggalan Jepang sekitar tahun 1942-1945 ini lebih sering disebut dengan nama Goa Jepang. Didalam goa ini terdapat sekitar 7 lorong yang saling terhubung. Apabila Anda ingin masuk goa tersebut, gunakan jasa pemandu. Jika tidak, Anda dapat tersesat berputar-putar di dalam lorong gua dan tidak bisa keluar. Dan untuk mencapai lokasi Goa Tlekung Batu Anda juga harus sedikit menguras tenaga karena jalan yang akan Anda lewati untuk menuju ke Goa sedikit naik dan berbatu.

Goa Tlekung Batu merupakan goa peninggalan jaman penjajahan Jepang. Goa ini di gunakan sebagai tempat pertahanan yang sengaja di bangun oleh jepang untuk menghadapi serangan pada masa penjajahan kala itu. Goa yang dibangun oleh jepang ini juga di gunakan sebagai tempat penimbunan bahan makanan dan juga kain untuk para tentara jepang yang saat itu sedang menjajah kota batu, goa jepang ini di bangun oleh para Romusa yang berasal dari Bondowoso, Lumajang dan juga Mojokerto yang jumlahnya ada ribuan orang. Saat itu arti dari Romusa bukanlah pekerja paksa karena mereka masih dibayar dan diberi makan meskipun tidak bisa di katakan layak. Istilah Romusa saat itu menurut bahasa jepang adalah seorang pekerja pembangunan. Para Romusa menuju kota batu dengan berjalan kaki dan juga menggunakan pakaian yang terbuat dari karung goni. Goa Tlekung Batu ini kemudian di gali dan disangga oleh kayu jati yang diambil dari hutan yang ada di sekitar sana dan juga mengambil dari Mojokerto, Jombang, Kediri dan kabupaten Malang.
2. Cerobong asap

Cerobong asap pabrik kulit Jepang berada beberapa kilometer dari Gua Jepang. Dibangun bersamaan dengan Gua Jepang sekitar tahun 1941.

3. Pesawat Guntei

Pesawat Guntei merupakan pesawat jenis pembom tukik (Dive Bomber) buatan pabrik Mitsubishi, Jepang tahun 1938. Pesawat Guntai pada eranya pernah menjadi salah satu kekuatan udara Jepang pada Perang Dunia II, di Indonesia Pesawat Guntei pada awalnya ditemukan di Pangkalan Udara Bugis, Malang dengan jumlah 7 pesawat yang merupakan peninggalan pemerintah Jepang saat menguasai wilayah Indonesia.
Pesawat pembom yang menggunakan motor radial dengan pendingin menggunakan angin. Pesawat tersebut berkekuatan 850 daya kuda dengan kecepatan maksimum 400 km/jam, kecepatan jelajah 265 km/jam dan kemampuan jelajah 1.722 km.
Sebagai pesawat pembom Pesawat Guntei mampu membawa bom seberat 500 kg dan dilengkapi tiga pucuk senapan mesin caliber 303. Angkatan Darat menyebutnya “Type 99 Assault Plane”. Sekutu menyebutnya dengan “Sonia”. Pertama terbang pada pertengahan 1939. Total produksi sekitar 2.385 unit.
F. PENINGGALAN SEJARAH PASCA KEMERDEKAAN

1. Makam Pahlawan TRIP
Pasca kemerdekaan Indonesia Belanda ingin kembali menguasai Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan terjadinya Agresi Militer Belanda I 21 Juli 1947. Tepat pada tanggal 31 Juli 1947, pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap, pasukan Belanda cukup mudah memasuki Kota Malang sebab kota ini telah dikosongkan oleh Komando Divisi Untung Suropati dan Kota Malang dinyatakan sebagai kota terbuka. Sampai di Jl. Salak (sekarang Jl. Pahlawan TRIP), terjadi tembak menembak antara pasukan TRIP dan Belanda, beberapa pasukan TRIP gugur, termasuk Komandan Batalyon 5000 Malang, Seosanto.Para korban yang gugur tersebut dikubur oleh sekelompok orang yang ditawan Belanda dalam satu lubang yang tidak jauh dari markas TRIP di Jl. Salak yang kini telah dirubah menjadi Jl. Pahlawan TRIP.

Untuk mengenang dan menghargai jasa dan pengorbanan para pejuang yang gugur tersebut, dibangun sebuah monumen Pahlawan TRIP. Monumen dan Taman Makam Pahlawan TRIP ini terletak di Jl. Pahlawan TRIP, sebelah utara Museum Brawijaya Malang Monumen dan Taman Makam Pahlawan TRIP adalah salah. satu upaya dari pihak Pemerintah Kota dan elemen-elemen yang terkait dalam menghargai dan menghormati ke-35 anggota TRIP yang gugur sebagai pahlawan dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda I

2. Monumen Joeang ’45
Monumen Juang ’45 yang dibangun pada tanggal 20 Mei 1975 ini dibuat untuk mengingat kembali sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Juga merupakan pembangkit semangat patriotisme anak-anak muda di Kota Malang ketika berjuang mempertahankan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.
Patung berwarna tembaga yang berlokasi tepat di depan stasiun kota baru Malang ini berupa satu patung raksasa sebagai simbol kolonialisme (Belanda) yang saat itu menjajah negara kita, dan 19 patung-patung kecil simbol rakyat jelata. Dimana keseluruhannya adalah penggambaran betapa sulitnya memperjuangkan negara ini dari tirani. Juga Relief-relief yang mengelilinginya menjelaskan tentang perjuangan pada masa Perang Kemerdekaan dari tahun 1945 sampai dengan 1949 di Kota Malang. Dan terakhir di tepi monumen terdapat 8 pagar sebagai simbol budaya Jawa. Serta teks Proklamasi tepat di depan monumen.
Hingga saat ini, turis dan pengunjung lokal yang menuju ke arah stasiun kota baru bisa saja melepaskan penat sejenak sambil menikmati pemandangan sekitar, tak hanya lalu lalang kendaraan, karema pemerintah kota telah menata ulang sekitar area stasiun menjadi sentra kuliner dan jajanan khas, warung makan dan beberapa restaurant juga beberapa lokasi untuk dinikmati : Balai kota dan taman tugu, serta akomodasi yang lumayan lengkap serta tidak sulit untuk menempuh perjalanan ke pusat perbelanjaan

3. Tugu Proklamasi

Menurut Dwi Cahyono, penulis buku Malang Telusuri dengan Hati, tentang cerita sejarah yang tergali di balik berdirinya monumen tugu Malang. Menurutnya monumen tugu adalah bekas dari Taman Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.P. Zoen Coen.
Lebih lanjut, pemilik Inggil Museum and Resto itu, menjelaskan jika pada masa Perjuangan Kemerdekaan, masyarakat Malang bergerak dan mencoba untuk meraih kemerdekaan serta mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi. Masyarakat Malang menginginkan untuk mempunyai pemerintahan yang dipimpin oleh orang Indonesia sendiri. Teks-teks proklamasi mereka tulis di banyak bangunan, jalan dan di seluruh Kota Malang. Sama dengan di Surabaya, di Malang juga di bentuk KNID dan BKR. Masa peralihan di Malang sangat berbeda dengan di Surabaya. Sekalipun terjadi banyak insiden, itu semua tidak mempengaruhi kelangsungan Pemerintahan Indonesia. Di Malang telah terbentuk suatu Dewan Pimpinan Daerah yag dipimpin oleh seorang pria bernama Sam. Jadi pemerintahan di Malang bisa berjalan dengan baik.
Bermula dari situlah pemerintah mulai membangun Kota Malang. Salah satu rencana pemerintah saat itu adalah membangun sebuah Tugu Kemerdekaan di Kota Malang. “Pada tanggal 17 Agustus 1946 Pemerintah Kota Malang merencanakan peletakan batu pertama pembangunan monumen tugu. Monumen ini ditandatangani langsung oleh Ir. Sukarno, sebagai Wakil Masyarakat Malang dan A.G. Suroto sebagai kepala komite pembangunan Monumen,” imbuh Dwi Cahyono, sembari menunjukan hasil dokumentasi yang telah dikumpulkannya di museum Inggil miliknya.
Tetapi ketika monumen itu akan selesai, mendadak terjadi Agresi Militer Belanda I. Monumen Tugu seolah-olah membuat Pasukan Belanda mengetahui tentang semangat kemerdekaan yang dimiliki oleh masyarakat Malang. Hingga akhirnya, pada 23 Desember 1948, Monumen Tugu dirusak oleh pasukan Belanda hingga tinggal puing-puing saja. Atas desakan masyarakat Malang, pada tanggal 9 Juni 1950 Pemerintah Malang membentuk panitia baru untuk membangun kembali Monumen Tugu. Akhirnya Monumen Tugu telah selesai dibangun. Hingga akhirnya pada tanggal 20 Mei 1953, monumen ini disahkan oleh Presiden Indonesia Pertama, Ir. Soekarno.
4. Museum Brawijaya Malang

Museum Brawijaya Malang merupakan salah satu museum yang terdapat di Kota Malang dan merupakan museum yang berbasis militer. Di dalamnya terdapat banyak bekas peninggalan-peninggalan masa penjajahan hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia, Museum ini sangat mewakilkan kilas balik sejarah Indonesia di Malang, di dalamnya terdapat banyak persenjataan perang yang digunakan pada masa perjuangan rakyat Indonesia. Mulai dari persenjataan kecil hingga persenjataan berat seperti tank dan lainnya, baju-baju militer peninggalan Belanda, Jepang dan Indonesia. Bahkan di sini pun terdapat salah satu mobil dinas milik Presiden Indonesia pertama Ir.Soekarno, dan salah satu gerbong maut yang tersebar di berbagai daerah di Jawa.
Namun salah satu daya tarik tersendiri di dalam museum ini adalah terpampangnya tank amfibi yang berada di depan museum yang merupakan saksi bisu kekejaman belanda saat melakukan agresi militer I di Malang pada tahun 1947. Tank tersebut merupakan tank milik Belanda yang menggugurkan para tentara muda belia yang disebut TRIP dalam peperangan mempertahankan kota Malang di jalan Salak yang kini menjadi jalan pahlawan TRIP. Sebanyak 35 prajurit muda yang gugur dalam peperangan ini, jasadnya dimakamkan secara masal di sekitar jalan Salak tersebut. Ketika itu Malang sedang dibumihanguskan dan dalam situasi darurat. Sedikit yang mengenal museum tersebut dan jarang yang mendatanginya saat ini. padahal museum itu merupakan sebuah kenangan yang harus selalu dingat oleh segenap masyarakat Indonesia bagaimana susahnya memperjuangkan negara Indonesia secara utuh dengan penuh pengorbanan yang besar.
Malang masih memiliki banyak kenangan akan sejarah dan masih banyak yang dapat dinikmati dari kota wisata ini selain tempat-tempat diatas tersebut. Selain keindahan alamnya yang alami, Malang merupakan sebuah kawasan wisata sejarah yang mempesona dan abadi.

5. Monumen Perjuangan KNIP

Monumen ini merupakan monumen sejarah perjuangan KNIP. Di tempat inilah pada tanggal 25 Februari hingga 5 Maret 1947, para anggota KNIP memancangkan tongkat persatuan untuk berjuang menegakkan kemerdekaan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Monumen ini merupakan simbol arsitektur yang dapat kita nikmati dari segi arsitektur bentuknya. Monumen ini berada tepat di halaman depan Sarinah Plasa.

EVALUASI
1. Jelaskan beberapa pendapat tentang asal usul nama/kata Malang
2. Sebut dan jelaskan peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa pra-aksara
3. Jelaskan peninggalan-peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Hindu-Budha
4. Sebut dan jelaskan peninggalan sejarah di Malang Raya pada masa kerajaan Islam
5. Jelaskan bentuk-bentuk peninggalan sejarah Malang Raya pada masa penjajahan Jepang, dan masa penjajahan Belanda
6. Jelaskan peninggalan-peninggalan sejarah di Malang Raya pasca Indonesia merdeka

Kerjakan secara kelompok ( satu kelompok 2 orang) dan dikumpulkan.
1. Identifikasikan karakteristik, termasuk arsitekturnya Candi-candi di Malang Raya berikut:
1) Candi Singosari
2) Candi Jago
3) Candi Songgoriti
4) Candi Sumberawan
2. Carilah peninggalan-peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha di Malang Raya yang lain selain yang telah disebutkan !

Posted 20 April 2015 by mrday49 in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: